Link

Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Mengenal Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenal Diri. Tampilkan semua postingan

Bab 5 Menjadikan Kesabaran Kunci Dalam Lingkungan

Kita kadang terpaut adanya suatu hal tanpa dipikir panjang. Kitapun lupa dari keberadaan dimana kita harus memilih. Disini kadang kita jadi gancil atau terpaut ego yang selalu ingin.

Kesabaran memang bentuk untuk mewujudkan adanya juang. Dimana kehidupan ini memang suatu realita yang perlu dipecahkan suatu kaidahnya. Dari mana hal ini akan menguatkan iman dan tagwa kita kepada Allah SWT.

Makna makna yang didapatkan dalam suatu kesabaran adalah nilai yang luar biasa. Ini akan jadi wadah yang mampu hembuskan kita pada nilai syukur.

Adapun dari ini inilah bentuk sabar pada keseharian yang bisa diterapkan, yaitu:

1. Sabar dalam menjalani waktu.

Tuhan itu maha adil, dia tidak akan begitu saja jadikan kesabaran kita sia sia. Disini kadang orang lupa pada keberadaan waktu. Kadang banyak yang berputus asa karena hal ini. Lihat kata bosan atau jenuh, serasa mengeluh pada waktu keadaan. Bukan jadikan baik keadaan malah akan jadikan suatu kebimbangan.

2. Sabar dalam menggapai juang.

Suatu cita cita semua ada tahapan dan prosesnya. Perjuangan tanpa kesabaran kadang jadi pemupus suatu semangat. Adapun upaya kita memang sering gagal ataupun buruk, tapi lihat kita dapatkan. Entah dari segi perwatakan kedewasaan ataupun mampu jadikan kita orang yang mampu sederhana.

3. Sabar dalam suatu pemikiran atau untuk belajar.

Dalam adanya pemikiran kita tentunya akan selalu jadi orang yang lebih baik. Dimana adanya sabar dalam berpikir mampu lajurkan pada kejelian. Diadanya jadikan penguat, kuharus bagaimana dan kemana belajar. Hal ini sering terjadi pada suatu kegiatan belajar. Bilang malas atau lagi tidak ada kemauan? Begini saja tentunya akan bawakan kita pada pada kebodohan dan manja.

4. Sabar dalam suatu masalah dengan orang lain.

Sabar ini akan bawa diri pada pemikiran yang tajam dan diam ketika mulai rumit ataupun gelisah. Karena lingkungan an kadang jadi ajang interaksi. Bila tidak ada kesabaran jadikan hilangnya suatu titik temu masalah itu sendiri.

6. Sabar dalam tiap musibah.

Inilah cahaya yang memang hidup itu, ada suatu jajaran sendi kematangan. Seperti kita ketahui berpikir seperti ini akan dapatkan hal hal yang selalu baik.

7. Sabar ketika difitnah ataupun disalahkan.

Nilainya luar biasa kadang jadikan penilain beda dan sesal orang lain. Seakan jadi kekuatan yang datang dari hati, dan kitapun akan mudah memaafkan orang.

Disinipun nilai daripada sabar adalah setengah dari pada iman. Maka ini uraian tentang nilai kesabaran menurut Al Qur'an dan Hadist riwayat yaitu:

1. Merupakan Ujian dari Allah kepada umat manusia.

Seperti dalam Surat Al-Baqarah (2: 177):
"...dan orang orang yang disabarkan dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan.
Mareka itulah orang orang yang benar imannya dan mereka itulah orang orang yang bertagwa."

Dan dari Hadist Riwayat Bukhari, Rasullah berkata:
"Sesungguhnya Allah berfirman ; Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian dia bersabar, maka Ku gantikan surga".

Jelas dari hal ini kita dapatkan adanya nilai nilai daripada suatu nilai Iman dan Tagwa . Disinipun jadi nilai ibadah yang luar biasa, karena:

a. Kesabaran merupakan sifat sifat para rasullah.

b. Kesabaran jadi nilai tulus dan iklas.

c. Kesabaran dekat dengan kedamaian.

d. Kesabaran jadi perekat silaturahmi.

2. Maka kesabaran telah diwajibkan kepada kita dalam menjalankan perintah Allah.

Seperti dalam Al Qur'an Surat Al-Baqarah(2:153):
"Hai orang orang yang beriman mintalah pertolongan pada Allah dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Allah beserta orang orang yang sabar."

Dimana dijelaskan kita diserukan agar selalu sabar dalam meminta pertolongannya. Dan dimana nilai dari teguran agar kita sabar dan selalu ingat akan adanya dengan ibadah sholat.

3. Kesabaran adalah nilai keimanan.

Dimana dalam Al Qur'an Surat Al Imran (3:146):
"Dan bersabarlah kamu karena sesungguhnya Allah itu beserta orang orang yang sabar".

Disurat ini terangkum jelas bahwa sabar kita akan selalu dapatkan ridho dan rahmat dari pada-Nya. Dimana inilah wujud kasih dari-Nya atas orang orang yang bersabar.

4. Sabar adalah ciri orang yang kuat.

Dari Abu Hurairah ra ,bahwa Rasullah Saw, berkata:
"Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah".

Sabar dalam emosi adalah mendapatkan nilai daripada:

a. Menjadikan ketenangan suasana.

b. Menjadikan nilai hormat.

c. Mampu melerai suatu perkara ataupun masalah.

d. Mampu tajamkan nilai pikir dan mampu jadi strategi.

5. Larangan isti'jal atau tergesa gesa.

Seperti dalam Al Qur'an Surat Al-Ahqaf ayat 35:
"Maka bersabarlah kamu seperti orang orang yang mempunyai keteguhan hati dan rasul rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan(adzab) bagi mereka".

Usaha memang butuh juang dan dimana memang inilah kunci kita apakah ikuti hawa nafsu ataukah memang jadi nilai ketulusan dan keiklasan?

Maka dari ini kita akan dapatkan keutungan yang luar biasa dari-Nya.

Bab 4 Mengatur Dari Adanya Hawa Nafsu

Hawa nafsu kita yang dibagi dalam nilai makluk Tuhan, kecuali malaikat. Disini jelas kita diberikan hawa nafsu karena jadi hal penentu jalan menuju nilai diri. Inilah nilai paling besar dan paling berat dalam kehidupan. Karena melawan hawa nafsu tidaklah mudah.

Seperti inilah kita paling lemah dengan hal ini. Oleh karena itu adalah nikmat tetapi juga kerugian, kenapa? Karena kadang hal inilah yang membutakan keberadaan manusia. Hawa nafsu adalah goda syetan paling beracun yang bisa terjunkan kita dalam keburukan. Mari kita tengok Al Qur'an dalam surat Al Insan dimana syetan telah menjadi musuh kita dan musuh yang selalu berusaha butakan kepadaNya.

Adapun juga dalam surat Al-'Ashr diman kita diberikan masa atau kehidupan yang didapat. Maka didapatkan daripada nikmat yang kadang kita terlupa pada tujuan daripada kita dibumi. Seperti nilai yang kadang mengumbar nikmat dunia dengan menggagungkan adanya kepuasan.

Seperti yang diriwayatkan Iman Al Baqir bahwa Rassullah Saw bersabda:
"Allah Swt berfirman; Demi kemulian-Ku, kebesaran-Ku, keperkasaan-Ku, dan ketinggian tempat-Ku , tak seorang hampapun yang mengutamakan keinginan(nafsunya) diatas keinginan-Ku melainkan Aku kacaukan urusannya, Aku ka burkan dunianya dan Aku sibukkan hatinya dengan dunia serta Aku berikan dunia kecuali yang telah katakan untuknya."

Dari pengakuan ini jelas bukan bahwa sanya Allah Swt akan jadikan nafsu lebih liar dari binatang. Disinipun harganya adalah seperti tidak ada hati ataupun dosa. Karena telah ditutupkannya jalan kebaikan dan kebenarannya. Seperti ketika ada lupa pada kita dilingkungan dan menjadikan segala cara untuk kepuasan.

"Demi kemulian-Ku, kebesaran-Ku, keagungan-Ku, nur-Ku, ketinggian-Ku dan ketinggian tempat-Ku, tak seorang hambapun menyelamatkan keinginan (nafsu) dirinya melainkan Aku suruh malaikat menjaganya, langit dan bumi menjamin rejekinya dan menguntungkan setiap perdagangan yang dilakukannya serta dunia akan selalu berpihak padanya."

Kita ketahui sebagai muslimin bahwa dzikir adalah pengisian daripada kosongnya pikiran. Kitapun akan tertuju pada kefokusan adanya ketakutan pada-Nya. Maka kitapun akan lupa dengan ketamakan dunia. Kitapun akan mulai mengerti bahwa kegiatan seperti ibadah yang khusuk dengan niatan pasti akan melajur pada kekuatan membawa hawa nafsu.

Seperti dalam Al Qur'an surat Al Furqon ayat 43:
"Terangkan kepadaKu tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, maka apakah kamu dapat menjadi pelihara atasnya".

Disini dijelaskan bernafsulah atas Tuhan untuk beribadah padanya jangan utamakan hawa nafsu dunia menjadi lupa padaNya. Karena kadang kita lupa sebagai mana kepentingan dunia yang menjadikan kegelisahan yang berujung pada tidak kepuasan.

Dijelaskan juga dalam Al Qur'an surat An-Nazia'at ayat 40 dan 41:
"Dan adapun orang-orang takut kepada kebesaran Tuhannya dan melawan diri keinginan hawa nafsunya ,maka sesunguhnya surgalah tempat tinggalnya".

Jelas bukan membawa hawa nafsu pada penempatan yang benar akan menjadikan kita makluk yang dimuliakanNya. Maka dari itu kita harus mengerti cara menempatkan adanya. Kapan nafsu itu perlu dan kapan nafsu itu ditahan.


Amirul Mukminm Ali as dalam Nahjul Balaghahag berkata:
"Sesungguhnya yang paling aku kuatirkan pada kalian adalah dua hal yaitu hawa nafsu dan angan-angan panjang", dan diriwayatkan Iman Shadiq bahwa:
"Waspadalah terhadap hawa nafsu kalian sebagaimana kamu sekalian waspada terhadap musuh. Tiada yang lebih pantang bagi manusia daripada mengikuti hama nafsu dan ketergelincirnya lidah yang tidak bertulang".

Dari dua penjabaran diatas hawa nafsu jadi hal nomor satu yang menjadikan buruknya manusia. Dimana inilah pemacu dari banyak perang ataupun keributan didunia ini. Hanya karena kata ingin puas pada kekuasan kita seakan mau jadi Fir'aun yang lupa pada Tuhannya. Seakan menjadikan harta dunia dan suatu hiburan sebagai adanya ladang pemacu untuk perang. Dimana terkadang juga terjadi layaknya perselingkuhan yang menjadikan zinah, dimana lupa adanya malu dan keberadaan keluarga. Disini kita lihat tidak akan ada hasil yang baik. Nilainya pasti jadi buruk dimata orang dan selalu hanya berakhir dengan kebosanan.

Maka dari itu sebenarnya dengan sederhanalah semua bisa ditekan. Yaitu mensyukuri adanya nikmat daripadaNya. Disamping itu juga akan menjadikan suatu ketenangan dalam titian berlaku. Dimana ini juga diajarkan dalam puasa. Yang mencoba menahan adanya nafsu perut dan nafsu kemaluan. Kitapun akan terasa nikmat saat berbuka dari hari hari biasa.

Bab 3 Menerapkan Keadaan Emosi

Ketika pribadi dari diri dalam wujud ini ada maka kita akan berpapas pada suatu keberadaan. Dimana kita akan membawa diri ini pada suatu keberadaan lingkungan. Hal inilah yang menjadikan nilai dari kesetabilan kita dalam berperan.


Emosi tidak akan bisa kita buang ataupun kita singkirkan. Karena inilah bagian dari keberadaan dari pada makluk ciptaan-Nya. Kenapa! Karena memang emosi juga ada didalam hewan hanya pikiran yang membedakan. Dari hal inilah kita bisa mengatur keberadaan emosi atau ego diri.


Emosi layaknya kita mengerti bagaimana menempatkan. Emosi maka lajur hingga kau bisa hidupkan untuk ditata. Lihatkah engkau apa itu elang yang menukik tajam?
Disini digambarkan tadinya tenang lalu mainkan bringas demi harapan. Dia seolah mengeluarkan dengan hentakan tajam. Sampai mangsa tidak lihat keadaan.


Kita diberi adanya emosi memang jadi nilai yang memcuatkan kesabaran. Karena sejati kita adalah makluk yang paling disempurnakan dari antara makluk-Nya. Maka dari itu latihlah dan ini cara dalam menjadikan atau menempatkan emosi itu, yaitu:

1. Selalu membuka nilai syukur pada yang Kuasa.

Dengan ini kita akan mengerti apalah arti amarah yang kita punya. Mau buat apakah adanya, apakah untuk menjadikan jalan Allah SWT ataukah nilai yang merugi. Disini kesabaran sudah diajarkan kita melalui sholat 5 waktu dan ibadah puasa bulan ramadhan. Maka inilah nyata cinta Tuhan kekita.

2. Melihat kesabaran sebagai kunci hasil kebaikan.

Seraya kita pasti mengerti apakah dari kematangan. Dimana dari suatu lukisan yang kita gambar dengan emosi kelembutan ataukah nilai karena materi ataupun pujian. Lihat dan bagaimana hasil akhir yang didapatkan.

3. Memulai berdiam saat emosi kita sudah diambang.

Menyikapi hal ini diam kadang bukan berarti mengalah. Diam adalah meluruskan suatu masalah. Disinipun mencari untai dari rasa yang telah dirusak karena telah buntu pikiran. Dan dalam kasus inilah diam begitu penuh penerapan strategi. Seperti yang diungkapkan Nabi Saw dimana diam seperti inilah emas.

4. Menilai kita sama memiliki kebutuhan.

Dari hal ini pastinya kita akan bertanya? Bagaimana aku punya kaca jendela? Kalau aku lempar jendela tetangga bagaimana?

5. Memikirkan dari adanya resiko yang didapatkan.

Kata resiko berarti kata bisa dapat kerugian atau menjadikan buruk keadaan. Coba kau tengok dirimu saat naik kendaraan. Tiba tiba ada motor ngajak balapan dijalan. Lalu aku bertanya jika menang aku dapat hal apa tapi kalau kalah, belum juga ini jalanan. Kemudian kulihat ada yang tabrakan karena main kendaraan tanpa aturan.


Ketika hal itu sudah bisa kita jalankan. Lihat apa nilai dari adanya membawa emosi dalam lingkungan, yaitu:

1. Dalam kepemimpinan kita akan dapat nilai dihormati dan dihargai.

2. Kitapun akan bisa dianggap orang yang mampu bawa diri.

3. Justru inilah jadi ketakutan orang bila mau berniatan buruk.

4. Nilai hasil apa yang dikerjakan tipis dari kelalaian.

5. Kita cepat dapat kerabat karena dianggap mampu menempatkan.

6. Kita dapatkan nilai kepercayaan.


Maka melajur pada hal yang membawa emosi akan meningkatkan diri pada hakikat makluk Tuhan yang dimuliakan. Karena kesabaran dalam emosi tinggi harga dan makna dengan juang.

Bab 2 Mengenal Tentang Jati Diri

Apakah Jati diri itu hal inilah yang selalu jadi tanya mungkin bagi kita semua. Kadang kita hanya mengikuti daripada hal yang bukan kita. Karena kurangnya mengenal daripada jati diri itu.


Pada kenyataan kita adalah seorang insan manusia yang tidak luput dari pada dosa. Kadang kita bertanya mau kemana?
Disini jelas kadang kita bimbang dan ragu karena kadang terhalang pada pikiran.


Maka membangun percaya diri itu penting karena memang dari itulah kita akan dapatkan keberanian. Lalu bagaimana menumbuhkan percaya diri itu. Ada beberapa cara yang bisa diterapkan:

1. Melakukan hal sesuai dengan kemampuan logika.

Ini adalah seperti keberadaan mengenal perhitungan pasti. Coba kita contohkan, ketika engkau melihat suatu sungai dan kamu memakai sepatu, pasti kadang mau melompat saja dimana disitu pasti kamu bisa seakan ukur mampu atau tidak.

2. Selalu menanyakan dari apa kurang kita.

Inilah belajar dimana menelusuri apa yang masih kurang dari diri. Seperti keberadaan dimana kita belajar menempatkan diri disuatu perkara.

3. Mendorong agar kita dapat motivasi.

Dari inilah kita dapat semangat ataupun gairah agar lebih berani.

Karena kita dapatkan dorongan yang kadang jadi paksa. Mari kita contohkan, misalkan waktu kita sekolah kita kadang jenuh untuk apa. Tapi gagaskan pada keberadaan agar mampu jadi kebanggaan orangtua.

4. Terus latih dengan menguatkan harapan.

Dimana disini kita taruh misi melalu visi. Yaitu bergerak pada hal yang diperbaiki dalam jangka pendek dan terus sampai terlatih hingga jangka panjang.

5. Kita renungkan dengan lingkungan.

Disini tentunya seperti melihat makluk lain bisa kenapa kita tidak. Ini bukan iri ataupun mau menyaingi, tapi agar memacu. Coba kau tengok burung pipit yang kecil. Dia kecil dan begitu biasa. Tapi kadang dia terlihat bahagia dengan adanya kota. Diapun mampu bertahan kenapa kita tidak, nah seperti itulah gambarannya.


Didalam diri ini sebenarnya banyak hal yang kita bisa tapi takut menjadikannya. Mungkin karena malu ataupun karena takut gagal. Inilah yang harus dibuang dan pacu diri agar mampu jadi jati diri.

Lihat kadang kita dalam segi apapun kalau hanya mengikuti kata dari luar(bukan dari kehendak hati sendiri) kadang keadaan jadi menggerutu atau ibaratnya tidak iklas. Pasti hasilnya juga sangat buruk, tetapi jika dari hati sendiri seperti ada kebanggaan.

Jati diri adalah nilai dalam diri yang bisa menghantarkan kita pada sosok yang mampu menjadikan suatu wujud yang bisa dibahagiakan di dunia maupun akhirat. Karena inilah kita yang menentukan akan jalan menuju kemana. Karena apa yang dari luar(bukan diri) adalah suatu warna yang kadang jadi penggoda atau penghalang tapi juga bisa jadi penuntun bila mau menyelaraskan. Karena hitam dan putih yang ada saat inilah nilai ujian dari Kuasa agar kita mampu mengkaji dan memilah agar menuju yang lebih baik.

Sub. Bagian 4 Tinjauan Mengenal Diri Dari Lahiriah

Dari mana kesemua itu adalah suatu jalan atau tautan yang akan mengacu kita pada insan manusia. Dimana kita mulai mengenal lahir dan akan melangkah kemana lagi.

Dimana kita memang diserukan oleh Allah SWT dalam Al Qur'an. Dimana semua hal adalah keputusan diri kita bukan orang lai. Maka dari pada itu jadikanlah dirimu yang mengenal arti jati diri.

Dari mengenal lahiriah maka kita akan belajar bersyukur atas apa yang ada pada jalan kebaikan menuju kematian yang telah disikapi.

Sub. Bagian 3 Mengenal Roh Kita

Pada hakikatnya roh kita adalah nilai daripada sukma keberadaan yang tidak mampu kita pandang mata. Tetapi kita mampu ketahui keberadaannya lewat kata hati. Dimana hati kecil atau kholbu itulah roh. Dimana semua terhubung dengan garis Tuhan.

Roh kita adalah cahaya atau keterangan pada diri kita. Coba kita tengok dari Al Qur'an Surat Al Isra(surat 85 ayat 17):

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

Dalam Al Qur'an Surat Shaad(surat 38 ayat 71 dan 72):
71. (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat; "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah".
72. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadikan dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya.

Mungkin kita akan dapatkan bisikan hati dimana itulah naluri. Dimana naluri ini perlu kita jaga atau kita munculkan agar mampu menepang ketajaman kita. Coba kau tengok waktu kita bayi, bagaimana?

Kita pasti tidak ingat ataupun melihat padahal kita punya otak. Kitapun mulai jalan dan mulai bicara, sungguh semua kebesaran Tuhan. Dimana itulah nilai cerdas dalam diri kita yang sesungguhnya nikmat luar biasa dari Allah SWT.

Lalu jelas diterangkan dalam Al Qur'an Al Muminuun ayat 15

Dimana roh kita benar telah diturunkan 40 hari dikandungan. Disini kita alamiah dan telah diberi takdir oleh Allah SWT untuk mempunyai naluri berkembang.

Seakan roh memang nilai seperti nyala api, bagaimana mau jadikan penerang atau akan samar dalam memandang. Itu semua bisa kita peroleh dengan merenung atau mengkaji dari pada tingkah laku kita. Agar menjadikan lajur penuh kebenaran dan kebaikan. Dari sinilah kita bisa belajar arti bentuk adanya kita sesungguhnya.

Karena kelak roh inilah yang akan selalu ada. Dimana hal inilah kesaksian kita pada hari akhir.

Sub. Bagian 2 Mengenali Jiwa Kita

Dimana kita mengenal daripada jiwa adalah keberadaan buah dari rasa dan pikiran. Seakan nilai jiwa adanya adalah penyelaras atau penopang daripada raga. Seperti kata "didalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang kuat". Inilah gambaran betapa pentingnya jiwa ini.

Tentunya dalam mengenal jiwa maka kita akan mengenal pikiran, mata hati dan rasa. Dimana semua menjadi mental atau keberadaan yang ada dalam diri. Nilai inilah yang mencuatkan kita pada sebuah kaedah.

Mental inilah sesungguhnya bukti bagaimana kita. Maka daripada itu kita jadikan jiwa kita yang sehat agar kita tetap mampu bertahan dikeadaan apapun tanpa banyak mengeluh.

Iman Al-Ghazali sendiri pernah berkata latihlah jiwa(riyadhah) dan mengendalikan hawa nafsu (mujahadatul hawa). Dimana jelas menjadikan ilmu dalam mengatur jiwa itu penting. Karena tentunya kita tidak mau bukan jadi orang yang disebut gila ataupun bodoh.

Dalam Al Qur'an (surat 91 ayat 9):
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mau mensucikan jiwa itu".

Jelas kita diserukan agar mau mensucikan adanya jiwa. Dimana kita juga mau memiliki suatu pikiran yang terbuka dan luas. Dan pada kenyataan kita ingin dihargai dan dihormati.

Dirumuskan juga dalam Al Qur'an (surat 91 ayat 10):
"Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori jiwanya''.

Dari ayat ini kita ketahui Allah SWT menjadikan rugi bagi kita suatu hal keburukan pada jiwa. Dimana ini lebih cenderung memuaskan hawa nafsu. Maka dari itu mari latih dan terapkan jiwa yang mapan. Dimana hal ini adalah:
1. Ilmu jiwa.
Dimana ini adalah menjadikan pengetahuan daripada ilmu mendekatkan pada Allah SWT tentang ilmu rohani.
2. Kekuatan fikir.
Adanya pelatihan pikiran agar mampu mengkaji suatu realita dengan logika. Misalnya belajar matematika agar kita mampu memperhatikan rumusan rumusan atau strategi semacam catur.
3. Kekuatan Emosi.
Mengatur emosi merupakan hal yang tidak mudah tapi kesemua itu bisa kita lajur dengan Sholat ataupun dengan Puasa agar lebih mendekatkan pada-Nya.

Dari tiga hal tersebut maka kita akan mengarah pada:
1. Kesederhanaan.
Dimana kita mampu jadikan cukup atau kepuasan yang ada dalam keberadaan kita. Kitapun akan menjadi orang yang selalu iklas dan syukur terhadap adanya nikmat dari pada-Nya.
2. Kesabaran.
Justru inilah jenjang yang mampu kuatkan mental jiwa kita. Dan disini juga letak keberhasilan dunia dan akhirat ditentukan. Kita akan stabil dalam meniti tiap masalah.
3. Keberanian.
Dari keberadaan kebaikan dan kebenaran jiwa akan mencuat keberanian dari pada suatu hal. Karena tentu sudah mampu memprediksi adanya resiko yang didapat. Dan hal ini diterangkan dalam Al Qur'an (surat 49 ayat 15):
"Sesungguhnya orang orang yang beriman itu hanyalah orang orang yang beriman kepada Allah dan Rosul-Nya, kemudian mereka tidak ragu ragu dengan berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang orang yang benar''.

Didalam jiwa kita kenal rasa maka engkau juga kenal cinta. Pada sesungguhnya Allah adalah cemburu bila engkau tidak mencintainya atau ingkar dari pada-Nya. Dan Tuhan telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang.

Disini Al-Ghazali sendiri telah membagi jiwa dalam tiga hal yaitu:
1. Jiwa Nabati.
Kesempurnaan awal bagi benda alam yang hidup dari segi makan, minum , tumbuh dan berkembang.
2. Jiwa Hewani.
Kesempurnaan awal bagi benda dari segi mengetahui hal hal kecil dan bergerak dengan radat atau kehendak.
3. Jiwa Insani.
Kesempurnaan untuk melakukan perbuatan dengan potensi akal dan pikiran dari mengetahui hal hal yang besifat umum.

Sub. Bagian 1 Mengenal Adanya Raga

Dalam kondisi adanya raga ini kita mengenal adanya suatu titipan. Dimana memang pada hakikatnya tubuh kita adalah dari tanah. Inipun telah diterangkan dalam:


Al Qur'an Surat ar-Rahman(surat:23 ayat:13/14):
"13. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
14. Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikan".

Al Qur'an surat Al Mu'minuun(surat 23 ayat 12):
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sari pati(berasal) dari tanah".

Seperti kita ketahui dari raga ini adalah penunjang adanya lahir. Didalam kasusnya adanya perkembangan secara luar biasa. Kesemua memang melalu proses. Adapun bagian dalam tubuh kita terbagi banyak organ yang semua adalah berhubungan. Dari raga inipun kita sering luka dan sakit. Maka daripada itu kita perlu mengerti cara menjaga dan membawanya. Dari mana ini semua kita ketahui dalam kesehatan kita mengenal olah jasmani.

Disini maka mari olah tubuh agar sehat secara alamiah.
Maka lihatlah dengan keberadaan alam dan menyelaraskannya dengan tubuh kita.
Jika tak ada matahari, ia tak akan menimbulkan cahaya.

Disini semua adanya raga adalah olahan cahaya. Betapa pentingnya jadi lajur dan nikmati matahari dipagi, maka hal ini jadikan dirimu bangun pagi.

Jika bukan karena bulan dan bintang bintang.
Bagaimana cairan yang berair dapat terkumpul?

Disini seperti adanya malam untuk jadikan istirahat layaknya engkau menjadikan air dalam tubuh sebagai metabolisme pemulihan sel yang rusak. Maka biasakan tidur yang cukup dan teratur.

Jika dua energi yang jaraknya jauh.
Dapat bereaksi dan berkomonukisa,
Apalagi yang dekat, didalam tubuhmu, Dan tersimpan didadamu?

Disini jelas keberadaan kesehatan itu dekat dengan hati, maka jaga adanya emosi dalam amarah serta pola makan yang sehat.

Padankan keseimbangan penataan seperti pada matahari dan bulan,
Dan gunakan api dan air untuk mengatifkan. Dimana adanya nilai matahari sebagai penghasil vitamin D menjadikan adanya perubahan sel yang menjadikan kebal. Dimana seperti bulan mengangkat air laut saat purnama yaitu jadikan adanya mengatur kebutuhan malam yang harus banyak minum air.

Ketiga harta telinga, mata ,dan mulut.Tutup dan kuncilah mereka dan jangan sampai ada yang keluar. Inilah kadang kita belajar menenangkan indera ini seperti melalui witir ditengah malam ataupun puasa.

Bab 1 Mengenal Diri Dari Lahiriah

Kita tentunya mengenal kata lahir ataupun telah diadakan. Sebagai mana kita diciptakan dari tanah dan dari segumpal daging.
Seperti dari Surat Al Mu'minuun (surat 23 ayat 14):
"Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah lalu segumpal itu Kami jadikan daging, lalu tulang belulang itu Kami jadikan bungkus dengan daging. Kami jadikan makluk(berbentuk)lain. Maka Maha Sucilah Allah Pencipta Yang Paling Baik".

Disini juga dijelaskan Hadist Bukhari(vol. 4, buku 6, hadist no. 315):
Dikisarkan oleh Acep bin Malik: Rasullah berkata "Disetiap rahim Allah telah menempatkan malaikat yang berkata, Oh Tuhan! Setetes Mani, Oh Tuhan! Gumpalan darah, Oh Tuhan! Sekerat Daging. Kemudian jika Allah berkeinginan untuk menyelesaikan ciptaan, malaikat bertanya, Oh Tuhan! Apakah laki laki atau perempuan.

Jelas disini kita ada karena Allah SWT dan diciptakan dari adanya tanah. Dimana itu semua nyata adanya karena lewat orang tua kita. Mereka tentunya makan dan menyerap makanan dan kesemua berasal dari nutrisi tanah.

Tentu saja kita terlahir kita telah dapatkan masa atau waktu. Inilah kesempatan dimana kita diberi titipan raga yang pada dasarnya adalah kosong. Dimana semuanya ditambahkan roh pada janin ketika kita di umur 40 hari di janin Ibu.

Didalam lahiriah inilah kita mempunya yang disebut roh dan jiwa. Dimana kedua bagian itulah yang jadi kunci nilai dari keberadaan kita. Seakan semua itu kita sadari dari saat kau lahir dan kau sadari setelah kau jalan dan berpikir.

Ditiap lahiriah inilah munculnya suatu watak atau dalam kasusnya kepribadian. Tidak dipungkiri watak ini seakan lekat dengan emosi. Karena itulah hal ini tidak akan bisa dihilangkan. Maka dalam hal ini hendaknya menjaga dari mana dan buat apa kita terlahir.

Seperti kita mengenal roh adalah sinar yang ada dalam tubuh kita. Dan dimana pikiran adalah jiwa kita. Keduanya ada diraga ini menjadi aku. Dalam hal inilah aku wujud dari pada makluk yang sendiri tetapi juga sosial dan diciptakan.

Aku adalah diri ini dan sejatinya manusia makluk yang tidak lepas dari dosa dan khilaf. Disinipun adanya adalah dari keberadaan yang lain. Maka nilai diri adalah nilai untuk menjadikan seorang yang mampu membatasi arti kebutuhan.

Maka lahiriah adalah wujud dari 3' hal yaitu:
1. Raga.
2. Jiwa.
3. Roh.

Ketiga hal itulah wujud aku yang dilambangi dengan indera sebagai cuat adanya nafsu. Dimana nafsu inilah sumber adanya emosi.

Maka lahir kita adalah juang yang panjang pada waktu yang menjadikan 3' hal untuk menjadikan bawaan kepada kebaikan dan kebenaran pada juang panjang melawan hawa nafsu karena Allah STW.

Pendahuluan

Kata dari kehidupan adalah hal yang sangat begitu sulit ditata. Karena hakikatnya kita adalah makluk yang tidak bisa lepas dari hawa nafsu.

Dari Surat AL-'ASHR (Makkah:103:3 ayat):
1. Demi Masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Dari tinjauan 3 ayat tersebut ada banyak hal yang kita dapatkan jadi perkara, yaitu:
1. Kita dapatkan waktu atau telah diberikan masa.
Mengenal kata ini kita telah mengenal arti daripada lahir dan mati. Disini kita telah diwujudkan.

Sebagaimana kita telah pahami dari mana dan kemana waktu. Disitupun adalah kesempatan dan suatu nikmat daripada kuasa Allah SWT.
2. Syahwat.
Inilah nilai daripada nikmat dari Allah SWT tentang kita. Dari ini pula kita bisa jadi nilai yang bagaimana. Mau ditempatkan disuatu hal yang baik ataukah hal yang buruk.
3. Kita telah diperkarakan pada sosial atau bermasyarakat.
Dijalanya kita pasti mengenal arti daripada suatu gambaran hubungan yang saling timbal balik. Dimana disini akan mendapatkan 3 hal, yaitu:
A. Salam Sapa.
Dimana hal yang menjadikan suatu pertemuan didalam masyarakat.
B. Bicara.
Kata bicara adalah berbagai wujud inipun bisa kita bagi lagi dalam berbagai media yaitu:
(a). Lidah.
Mengenal lidah tentu akan mengenal kata obrolan dimana menghasilkan ucapan. Diwujudnya lidah adalah hal yang sangat dekat dengan kesalah. Seperti pepatah "lidah lebih tajam daripada belati''.
(b). Tulisan.
Dimedia ini sekarang merupakan hal yang sangat penting. Seperti buku, majalah, surat ataupun bukti bukti atau akte. Tulisan memang jadi hal yang sangat manfaat dari segi bisa dipindahkan dari tangan ketangan juga selalu kecil luput dari lupa.
(c). Isyarat atau tanda.
Media ini adalah wujud dari macam hal entah dari abaan, warna, suara, ataupun gambar. Kadang ini jadi hal yang membuat dalam suatu hubungan jadi mudah. Dibanyak kasus didunia ini banyak bedanya bahasa. Hal ini tentu saja jadi hal yang mampu jadi wujudnya hubungan.

C. Senyum.
Ingat dalam kehidupan terkadang senyum adalah suatu ibadah tapi kadang senyum juga musibah.

D. Tawa dan Canda.
Hal inilah kadang kita tidak mengerti batasan etika dalam membawa diri. Karena tawa canda sering kali dekat dengan menyindir ataupun lepas kontrol. Maka kadang terjadilah nilai dari adanya turunnya etika dan sopan santun.

Menjejaki dari itu semua mari lajur lebih dalam pribadi kita. Karena "MENGENAL DIRI MAKA AKAN MENGENAL TUHANNYA".

Mengenal Diri Sebagai Abdi( pesuruh)

Kata Pengantar

Assalam mu'allaikum Wr. Wb.

Disini kuadakan mengenai ilmu alam dan tasaw'uf yang menjadikan arti mengenal diri. Dimana kita adalah kepribadian yang melajur pada tali nafsu. Disini lewat hal ini saya akan menampilkan dari pada mengatur adanya jalan ini dan tata caranya.

Semua didasarkan pada kecilnya keberadaan ilmu tasaw'uf yang makin lekang. Karena pada kebenaran ilmu inilah yang akan menjadi patokan dari mana akan menggagas kepribadian menuju Tuhan. Dimana ini dari penelusuran ayat ayat suci Al Qur'an dan Hadist Nabi.

Adapun saya selaku penulis disini mungkin masih awal dan tidak luput dari garis salah dan dosa. Dari itu jadikanlah buku ini suatu realita agar mampu dipilah kebaikannya.

Wallai'kum sallam Wr. Wb.