Link

Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Renungan Pola Pikir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Pola Pikir. Tampilkan semua postingan

Terkadang Ketenangan Dekat Dengan Keburukan Dan Kesalah Jadi Lajur Menuju Kebenaran

Dari jalan papas dilahir kita. Pasti kau menangis dan merengek meminta utas suatu sentuhan. Dimana memang itulah naluri yang menjadikan kita kemana.

Apakah kau mau jadi orang yang tenang dalam artian acuh pada keadaan. Disini kita pastinya bertanya dimanakah ada yang mengajarkan. Disetiap ada suatu kesalahan itulah jadi kebenaran kita. Lalu apakah kebenarannya tentu saja meluruskan.

Aku bukan orang yang fanatik dalam segi agama. Kumenghargai adanya kepercayaan pandangan masing masing orang. Kujuga akan berbicara umum ditiap nafas perkumpulan.

Dilajurnya kita adalah makluk sosial dimana saling terhubung. Bila kita adanya ikuti keadaan bukan tidak mungkin kita terseleweng. Dan kenapa kesalahan dekat dgn kebenaran, karena kadang dari adanya hal yang salah kita dapat teguran yang lebih. Jadinya kita lebih menata kembali. Bukan berarti untuk belajar salah dulu, tetapi jangan kau kucirkan orang yang salah tapi sudah jadi kewajiban orang yang mengerti. Atau kau tenang maka engkau jadi orang yang rugi dari adanya ilmu itu.

Maka seutas tenang hanyalah lajur orang yang tidak mau belajar mengejar dan kebenaran itu adalah menjadikan saling mengisi kasih untuk memberi ataupun meminta hal hal agar melajur pada suatu niatan baik.

Kapan Saat Diam Dan Kapan Saat Bicara

Berbicara sudah adanya sebagai alat komunikasi. Tak kala kita harus bicara pada hal yang perlu dan dimana kau letakkan diam.

Tanpa bicara tentu apa dari pada kita tidak akan dimengerti. Tapi perlu diingat lidah itu apakah?
Lidah sebagai suatu nikmat dari yang Kuasa dan lidah dibuat agar menjadikan untuk menyebut nama-Nya dan adanya untuk mengingatkan dan bicara pada kebaikan.

Coba ketika kamu melihat dari adanya keburukan orang maka kita wajib bicara dan diam ketika semua telah dikatakan. Kita boleh keras asalkan tanpa menjadikan emosi dan benar adanya. Dan ketika dia tetap ngotot atau tak mengerti cukuplah kau diam.

Disini keutungan adanya diam disuatu perselisihan, yaitu:
1. Menjadikan keadaan agar stabil.
2. Menjadikan pemikiran yang tajam dari pada ketenangan.
3. Menjadikan nilai hormat atau menjaga wibawa.
4. Menjadikan pikir dari lawan kenapa kita bisa diam dan tenang.
5. Mengatur siasat daripada gagas gagas yang baik.

Diam adanya saat semua telah tidak ada makna dan manfaat suatu kebaikan. Dan bicara ketika ada untuk silaturahmi dan meluruskan sesuatu pada kebaikan dan kebenaran.

Mengenal Harga Dari Orang Untuk Menjadikan Harga Diri

Ku berkata tentu tidak sepaham dengan gagas tiap masing orang. Kubertanya itupun belum tentu karena aku meminta jawab. Dikeadaan dan kadar lingkunganlah kadang orang terwujud dalam pikiran yang berbeda. Dimana pada kenyataannya manusia mengenal harga diri sebagai alasan.

Bukankah kita jelas diberi perkara untuk memilih dan menyikapi. Karena hal inilah jadi harga atau nilai diri. Belajar pada janji terhadap diri sendirilah jadi kekuatan terbesar dalam melakukan kehidupan.

Dibisikan tali kehidupan memang panas dengan harapan agar jadi orang yang berarti. Menjadikan arti dari dirilah manusia mampu mewujudkan kesejajaran pada tali kasih. Sepertinya kita kadang juga mengotot pada ego kita sendiri. Lalu buat apa yang dipaksakan ataupun dikeraskan kalau ujungnya hanyalah kemarahan dan caci yang menjadikan kita seakan jadi rimba.

Letak pada gagas pemikiran inilah terkadang manusia itu lupa pada apa nilai harga diri itu. Jelas kita adanya satu dan sejajar dengan orang lain. Seakan membicarakan hak tentu saja kita tahu mengapa, bukan karena kita kemana. Dari mengapa kitapun akan tau dari kewajiban atau apa yang menjadi hak itu sendiri. Lalu kalau bilang kemana kadang kita lupa pada apa yang ada saat kita memulai. Disini jadi lupa pada berdirinya diri menjadikan ego yang kadang telah diberi akan hak itu sendiri.

Wujud wujud daripada semua yang ada dalam diri tidak akan lepas dari lingkungan dan waktu. Mengajarkan pada suatu kesempatan bagaimana telah ada dalam melakoni wujud dari berkah atas waktu. Disisi lain ada kaca yang membiaskan dari arti adanya kita. Tanpa tersadar semua punya peranan dalam membawa diri. Karena itulah jangan lah jadi orang yang mengganggap harga diri penting. Akan tetapi mencuat pada harga dari pada keberadaan orang lain sebagai kewajiban yang menghasilkan hak.

Bocah

Bocah dalam kata ini tercantum jelas kata lugu. Dalam artian masih banyak bimbang dalam laku. Bukankah inilah seutas masa dimana kita bisa berikan kelembutan dan didikan.
Bocah dalam lakunya banyak meniru hidup atau tingkah laku dari yang lain. Kadang menghabiskan masanya dalam bermain. Itu adalah wajar tetapi peran orang tua sangat perlu. Dalam kasus ini bagaimana cara membimbing bocah itu.

Ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Dalam pola bicara kepadanya.
Disini perlu kita ingat mereka masih polos jadi kita juga yang harus membantu mengarahkan. Jangan kita bicara kepada kakak kita lalu tetap panggil kakak tetapi paman, itu misal. Disini tentang tata krama bicara antara kebanyak hal. Dan sering ajarkan untuk suka salam sapa.
2. Dalam bermain.
Tentu saja kita harus sejajarkan seusia mereka jangan biarkan bermain dengan orang dewasa. Karena dari sini akan muncul masal penyeimbangan karakter.
3. Didalam lingkungan sekolah.
Kita yang mengarahkan dalam pendidikan tetapi dalam kasus itu anaklah yang menentukkan. Tetapi lihat segi kemampuan anak dan lingkungan pendidikan itu benar atau tidak.
4. Memberikan aturan-aturan kecil dengan lembut.
Disini pastinya ajarkan kebiasan baik seperti berdoa, bangun pagi, mandi dan byk hal lainnya. Dan lakukan itu pelan tanpa memberi pukulan. Bila alahkah baiknya berikan sindiran biar peka dalam merasakan apa itu norma dan ucap yang miring dan menjulang.
5. Ajarkan untuk mengalah dan memafkan.
Inilah banyak hal yang sering jadi masalah dalam kasus kerukunan bertetangga. Kadang ribut antar anak2 orang tua malah yang jadi ribut. Jangan seperti itu usahakan berikan arti kata teman. Dan jangan dibela baik benar atau salah tetapi ajarkan meminta atau memberi maaf.
6. Jangan dimanja dan latih kemandirian.
Ini mengapa perlu keseringan diberi mudah dia akan malas. Pola pikirnya akan manja jadi berikan sedikit sedikit sendiri dalam mengatasi masalahnya. Dan dari orang tua memberikan bimbingan.
7. Jangan biarkan suka menangis dan latih keberanian.
Bila anak menangis wajar tetapi kalau terlalu lama itu membuat pola pikirnya menurun. Dan itupun akan memacu sakit. Jadi carikan solusi dengan benar misal diberi hukuman atau bentakan yang pelan. Dalam hal ini sindiran lebih indah diperankan.
8. Ajarkan untuk berbagi.
Ini jelas kita sering ajarkan berbagi atau sodakoh dari hal kecil. Misal berbagi antar teman sebaya.
9. Sering sering ajak dialam dan menjaganya.
Dalam kasus ini dari cara membuang sampah ataupun menjaga lingkungan.
10. Ajarkan berhemat atau menabung.
Hal ini gamblang beri dia motivasi buat apa hemat.
11. Berikan hal yang bisa memilah dan memacu cita cita.
Inilah tugas berat orang tua melihat kemampuan dan kemauan anak. Hal ini bisa dipacu lewat berbagai permainan, film anak ataupun musik anak anak.

Bocah adalah harapan dan nilai kelak jadi bimbinganlah jadi kuncinya

Mengenal Watak

1. Dari Lahiriah.

Dalam hal ini kita jangan anggap adanya watak itu buruk tapi juangkanlah. Dimana kita pada hakikatnya memiliki banyak perbedaan watak dari segi ego maupun pemikiran.

Kita tentunya diberi waktu untuk menjadikan kedewasaan. Disini mengenali watak butuh adanya kaitan jangka. Dari mana juang yang panjang untuk melakoni suatu kaidah. Harusnya kita jadikan watak itu penguat adanya garis tatanan kita.

Maka pikirkan apa yang diperoleh daripada adanya watak. Disini juga akan menjadikan sorotan orang kekita. Jadilah watak diri sendiri tetapi batasi dengan lingkungan. Karena pasti ada sebab dan akan berujung akibat.

Dan disini lihat dari kejadian lama sebagai pedoman bagaimana meniti adanya watak watak yang salah jadi acuan. Melangkah dari pengalaman tentunya akan menjadikan nilai kedewasaan yang makin mapan. Dari gerakan itulah semua bermakna. Melatih memang butuh peranan dan jangka. Disitulah maka harus jadikan titik baru dan baru agar sedikit cacat.

Dari ini kita lihat adanya raga ini. Mulailah artikan apakah yang jadi perlu dan tidak perlu dari raga. Dilihat dari pola makan, istirahat dan olahraga. Karena disini juga penting sebagai penguat jiwa.

Dari raga ini juga kita mengartikan adanya dari mana. Apakah ini nyata atau peranan saja. Tubuh ini dari mana dan buat apa? Nah inilah yang perlu ditanam. Jadi jelas raga adalah titipan. Disini adanya segumpal darah dari proses alkimia menjadi raga. Pada dasarnya tubuh ini tidak ada dan kosong.

Semua adalah proses adanya keterikatan alam. Disinilah pengaruh besar dari makan dan matahari yang berproses. Lihatkah engkau seperti air yang pelan digadang panas menjadi uap dan terjadilah mendung. Maka jadi siraman indah. Itulah proses raga dari mana dan akan kembali kemana.

Kita jelas diberi hawa nafsu yang jadi hal watak dasar segala polah tingkah. Dimana cara membuka kuncinya ini kau gali. Cari kunci dirimu lewat jati diri dan acuan membatasi hak dan kewajiban.

Kita dasarnya adalah hitam dan putih dimana berkasnya adalah kaidah. Peranan ini ada maknanya agar mau jadi apa dan buat apa. Semua itu didasari pada dua hal yaitu roh atau didalam lubuk hati dan jiwa atau bentuk mental dan pemikiran.

Disinipun kau harus terapi makna adanya siang. Disini buat apa dan mau apa. Bukankah siang terang dan gamblang buat suatu keberadaan dunia. Maka kau juga lihat malam gelap tapi dekat dengan renungan gagas dari langkah disiang. Seperti sekarang purnama ada karena sinar matahari.

Maka kau akan mengerti adanya watak manusia dari adanya lewat roh dan jiwa yang bersemayam diraga.

2. Menjalani Dan Terapan.

Semua keadaan adanya dari diri. Termasuk adanya watak. Disini watak adalah didalam diri dan akan memerintah dari diri sendiri. Maka belajar mengatur keadaannya dari lubuk hati. Dimana lubuk hati tidak akan menjadikan kebodohan tapi kecerdasan.

Karena apa yang menjadi ganjal dari pada keadaan adanya dari luar hati. Dalam hal ini lebih tertuju pada pikiran. Maka jadikan untuk membangun adanya jati diri. Dimana jati diri adalah mengenali apa yang benar jujur buat kita.

Maka bila keadaan itu telah kita dapati maka kita akan sehat diadanya termasuk lahiriah dan bathiniah.

Karena adanya keamanaan bergerak tanpa ragu. Mampu menyeleraskan keadaan menjadikan realita. Dimana kita akan bergerak dirohani yang menuju ke yang Esa.

Dan jadilah hawa nafsu itu gairah yang betul mengetahui nikmat-Nya. Tapi hal ini kita harus mampu jadikan kendali dimana yang ditinggikan dan dimana yang diredam.

Ketika diri telah menjadi lajur ketenangan dimana dari adanya tujuan. Maka kita jadikan gerakan yang menjadi kegelisahan. Dimana dari hal ini akan menjadikan suatu dorongan.
Kita lihat contohnya kita mau judi kita rangsangkan pada kerugian lalu kita akan gelisah dan mundur. Lalu ketika kita adanya suatu pekerjaan lalu kita pikirkan kegelisahan kalau aku tidak kerja. Maka kita akan terdorong kerja.

Seperti keadaan dunia, dan semuanya adalah timbal balik dari ragam hal. Dimana hidup adalah keadaan yang sama merangkul menjadikan makna. Dimana antara kegelisahan dan ketenangan mampu menerapkan dia hal yang tepat. Seperti keadaan Emas dan Air yang saling merangkul.

Entah Apa Ini

Melampaui dari apa yang ada dari kelumrahan. Kuakui kumemang orang yang lebih gesit dan cepat dari rata rata banyak orang. Ini memang watak dari semua saudaraku. Tapi memang aku lemah dalam kestabilan kesehatan.

Bahkan aku sudah anggap sebagai hadiah dari Nya. Karena memang disetiap sakitku kudapatkan renungan yang luar biasa dari pada banyak hal. Kenapa dan darimana sakit memang lumrah. Bahkan diadanya sangat dekat dengan kematian.

Yang kutakuti nyata bukan sakit raga, tapi sakit hati karena inilah nyata ujung petaka penyakit besar. Karena memang pada kaedahnya hati lah yang menjadi kunci kehidupan.

Bagaimana sakit itu berasal adalah dari nafsu manusia. Dimana memang semua olahan daripada pikiran dan hormon yang mencuat. Maka kupun mulai sedikit belajar mengendalikan nafsu dan hati.

Kumungkin sudah masuk jadi orang orang aneh dan suka hal yang tidak wajar. Karena dari pola makankupun hanya sepiring nasi dan 3 s.d 5 gelas kopi sehari. Ini kurasakan hal yang luar biasa dari peningkatan gaya pandang, jalan dan gerak. Dimana aku semakin tipis dan lupa pada nafsu makan tubuhku mungkin kurus tapi dari mental dan gayaku berjalan makin dikemantapan.

Ketika ada nya makan adalah untuk menyambung hidup. Bukan dari adanya nilai menjadi nafsu yang dimana dicari. Karena nikmat sebenarnya adalah suatu tantangan yang selalu baru.

Ketika Ku Bertanya

Ketika ada banyak jalan ataupun pilihan, maka khalayaknya engkau berpikir dan mulai bingung. Lalu bagaimana agar kita dapat arah yang benar? Ataukah dicoba tengok satu persatu?

Maka belum juga dapat hasil, dimana waktu itu berjalan pada penitiannya. Jelas sudah, nilai hampir jadi rugi ataukah dianggap bodoh amat.

Merengkuk dan terpuruk sudah manusia tapi mau jadi biasa atau hal yang luar biasa. Bagaimana jadi sikap agar mampu jadi referensi yang membangun. Ditata tata memang tidak mudah adanya peraturan, tapi sedikit banyak semua ada manfaat yang menjadikan penahan.

Semua adalah gaib atau tidak ada yang tahu. Dari situpun raihlah pada titik titik yang tegas dan tanpa terbeban dimana kunci kesabaran. Dari hal hal inilah kita jadikan semua mematikan pandangan tapi berpegang pada tongkat yang memang ada tatanan tiap langkah. Maka apa yang ditemuai adalah bisik bisik cinta pada kebaikan dan kebenaran.

Kebodohanku Adalah Nikmat Terbesarku

Dari keberadaanku aku adalah pelupa. Dimana kadang nama teman saja bisa lupa padahal sudah ada yang lama. Disini kadang aku malu karena takut dengan persahabatan. Hal ini juga kadang aku lupa wajah orang.

Dari kecil memang aku menonjol di ilmu pasti. Tapi ada hal hal yang fatal terjadi dimana kusuka lupa dengan angka angka tanpa rumus. Disaat itu aku memang lebih diatas rata rata dalam memugar rumus.

Dari pelupaku aku mudah berkreasi disetiap hal yang perlu dipecahkan. Seperti refleks yang tidak perlu kubayangkan seperti naluri yang memainkan. Diatas keadaan umumpun aku adalah aneh dan kupun memang anggap jelas diriku aneh. Anehku jelas karena kemampuan interaksi diperbincangan kusulit. Tapi jika suatu hal yang sudah jadi kemauan jangan tanya ku arogan dan tidak mau mengalah. Tetapi dengan dasar dan realita kehidupan yang ada.

Manusia wajar hanya memiliki penggunaan otak rata rata 10% dimana ilmuwan pun hanya kisaran 15 %. Dimana mampu digunakan maksimal para pemikir atau perenung di kisaran 20%. Ini fakta dan jelas dimana nilai orang yang gelisah adalah orang yang mau memacu otaknya.

Kenapa kita tidak bisa semua menggunakan. Itulah sebabnya manusi tidak sempurna. Diatas lupa itulah kau kadang bisa sedikit hilang beban berjalan. Diantara banyak kasus ada hal yang sulit dimengerti tapi pandai menghafal. Disatu sisi lemah menghafal tapi pandai menjabarkan.

Kupun termasuk orang yang suka teka teki. Bukan untuk mengasah daya hafal tapi dari mana dan kemana.

Jadi kesimpulanku:
Manusia itu pelupa, tapi hal inilah yang mampu membukakan beningnya pemikiran. Dimana cerdas dalam hafalan adalah bodoh dalam berkreasi. Dimana dia terbeban dari adanya suatu suatu perkara yang selalu ada dipikiran. Maka jadilah bayi ditiap apa dan mau kemana dihidupmu. Yang selalu gelisah karena itu sifat perenung.