Link

Powered By Blogger

Sub. Bagian 2 Mengenali Jiwa Kita

Dimana kita mengenal daripada jiwa adalah keberadaan buah dari rasa dan pikiran. Seakan nilai jiwa adanya adalah penyelaras atau penopang daripada raga. Seperti kata "didalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang kuat". Inilah gambaran betapa pentingnya jiwa ini.

Tentunya dalam mengenal jiwa maka kita akan mengenal pikiran, mata hati dan rasa. Dimana semua menjadi mental atau keberadaan yang ada dalam diri. Nilai inilah yang mencuatkan kita pada sebuah kaedah.

Mental inilah sesungguhnya bukti bagaimana kita. Maka daripada itu kita jadikan jiwa kita yang sehat agar kita tetap mampu bertahan dikeadaan apapun tanpa banyak mengeluh.

Iman Al-Ghazali sendiri pernah berkata latihlah jiwa(riyadhah) dan mengendalikan hawa nafsu (mujahadatul hawa). Dimana jelas menjadikan ilmu dalam mengatur jiwa itu penting. Karena tentunya kita tidak mau bukan jadi orang yang disebut gila ataupun bodoh.

Dalam Al Qur'an (surat 91 ayat 9):
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mau mensucikan jiwa itu".

Jelas kita diserukan agar mau mensucikan adanya jiwa. Dimana kita juga mau memiliki suatu pikiran yang terbuka dan luas. Dan pada kenyataan kita ingin dihargai dan dihormati.

Dirumuskan juga dalam Al Qur'an (surat 91 ayat 10):
"Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori jiwanya''.

Dari ayat ini kita ketahui Allah SWT menjadikan rugi bagi kita suatu hal keburukan pada jiwa. Dimana ini lebih cenderung memuaskan hawa nafsu. Maka dari itu mari latih dan terapkan jiwa yang mapan. Dimana hal ini adalah:
1. Ilmu jiwa.
Dimana ini adalah menjadikan pengetahuan daripada ilmu mendekatkan pada Allah SWT tentang ilmu rohani.
2. Kekuatan fikir.
Adanya pelatihan pikiran agar mampu mengkaji suatu realita dengan logika. Misalnya belajar matematika agar kita mampu memperhatikan rumusan rumusan atau strategi semacam catur.
3. Kekuatan Emosi.
Mengatur emosi merupakan hal yang tidak mudah tapi kesemua itu bisa kita lajur dengan Sholat ataupun dengan Puasa agar lebih mendekatkan pada-Nya.

Dari tiga hal tersebut maka kita akan mengarah pada:
1. Kesederhanaan.
Dimana kita mampu jadikan cukup atau kepuasan yang ada dalam keberadaan kita. Kitapun akan menjadi orang yang selalu iklas dan syukur terhadap adanya nikmat dari pada-Nya.
2. Kesabaran.
Justru inilah jenjang yang mampu kuatkan mental jiwa kita. Dan disini juga letak keberhasilan dunia dan akhirat ditentukan. Kita akan stabil dalam meniti tiap masalah.
3. Keberanian.
Dari keberadaan kebaikan dan kebenaran jiwa akan mencuat keberanian dari pada suatu hal. Karena tentu sudah mampu memprediksi adanya resiko yang didapat. Dan hal ini diterangkan dalam Al Qur'an (surat 49 ayat 15):
"Sesungguhnya orang orang yang beriman itu hanyalah orang orang yang beriman kepada Allah dan Rosul-Nya, kemudian mereka tidak ragu ragu dengan berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang orang yang benar''.

Didalam jiwa kita kenal rasa maka engkau juga kenal cinta. Pada sesungguhnya Allah adalah cemburu bila engkau tidak mencintainya atau ingkar dari pada-Nya. Dan Tuhan telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang.

Disini Al-Ghazali sendiri telah membagi jiwa dalam tiga hal yaitu:
1. Jiwa Nabati.
Kesempurnaan awal bagi benda alam yang hidup dari segi makan, minum , tumbuh dan berkembang.
2. Jiwa Hewani.
Kesempurnaan awal bagi benda dari segi mengetahui hal hal kecil dan bergerak dengan radat atau kehendak.
3. Jiwa Insani.
Kesempurnaan untuk melakukan perbuatan dengan potensi akal dan pikiran dari mengetahui hal hal yang besifat umum.

Tidak ada komentar: