Link

Powered By Blogger

Bab 3 Menerapkan Keadaan Emosi

Ketika pribadi dari diri dalam wujud ini ada maka kita akan berpapas pada suatu keberadaan. Dimana kita akan membawa diri ini pada suatu keberadaan lingkungan. Hal inilah yang menjadikan nilai dari kesetabilan kita dalam berperan.


Emosi tidak akan bisa kita buang ataupun kita singkirkan. Karena inilah bagian dari keberadaan dari pada makluk ciptaan-Nya. Kenapa! Karena memang emosi juga ada didalam hewan hanya pikiran yang membedakan. Dari hal inilah kita bisa mengatur keberadaan emosi atau ego diri.


Emosi layaknya kita mengerti bagaimana menempatkan. Emosi maka lajur hingga kau bisa hidupkan untuk ditata. Lihatkah engkau apa itu elang yang menukik tajam?
Disini digambarkan tadinya tenang lalu mainkan bringas demi harapan. Dia seolah mengeluarkan dengan hentakan tajam. Sampai mangsa tidak lihat keadaan.


Kita diberi adanya emosi memang jadi nilai yang memcuatkan kesabaran. Karena sejati kita adalah makluk yang paling disempurnakan dari antara makluk-Nya. Maka dari itu latihlah dan ini cara dalam menjadikan atau menempatkan emosi itu, yaitu:

1. Selalu membuka nilai syukur pada yang Kuasa.

Dengan ini kita akan mengerti apalah arti amarah yang kita punya. Mau buat apakah adanya, apakah untuk menjadikan jalan Allah SWT ataukah nilai yang merugi. Disini kesabaran sudah diajarkan kita melalui sholat 5 waktu dan ibadah puasa bulan ramadhan. Maka inilah nyata cinta Tuhan kekita.

2. Melihat kesabaran sebagai kunci hasil kebaikan.

Seraya kita pasti mengerti apakah dari kematangan. Dimana dari suatu lukisan yang kita gambar dengan emosi kelembutan ataukah nilai karena materi ataupun pujian. Lihat dan bagaimana hasil akhir yang didapatkan.

3. Memulai berdiam saat emosi kita sudah diambang.

Menyikapi hal ini diam kadang bukan berarti mengalah. Diam adalah meluruskan suatu masalah. Disinipun mencari untai dari rasa yang telah dirusak karena telah buntu pikiran. Dan dalam kasus inilah diam begitu penuh penerapan strategi. Seperti yang diungkapkan Nabi Saw dimana diam seperti inilah emas.

4. Menilai kita sama memiliki kebutuhan.

Dari hal ini pastinya kita akan bertanya? Bagaimana aku punya kaca jendela? Kalau aku lempar jendela tetangga bagaimana?

5. Memikirkan dari adanya resiko yang didapatkan.

Kata resiko berarti kata bisa dapat kerugian atau menjadikan buruk keadaan. Coba kau tengok dirimu saat naik kendaraan. Tiba tiba ada motor ngajak balapan dijalan. Lalu aku bertanya jika menang aku dapat hal apa tapi kalau kalah, belum juga ini jalanan. Kemudian kulihat ada yang tabrakan karena main kendaraan tanpa aturan.


Ketika hal itu sudah bisa kita jalankan. Lihat apa nilai dari adanya membawa emosi dalam lingkungan, yaitu:

1. Dalam kepemimpinan kita akan dapat nilai dihormati dan dihargai.

2. Kitapun akan bisa dianggap orang yang mampu bawa diri.

3. Justru inilah jadi ketakutan orang bila mau berniatan buruk.

4. Nilai hasil apa yang dikerjakan tipis dari kelalaian.

5. Kita cepat dapat kerabat karena dianggap mampu menempatkan.

6. Kita dapatkan nilai kepercayaan.


Maka melajur pada hal yang membawa emosi akan meningkatkan diri pada hakikat makluk Tuhan yang dimuliakan. Karena kesabaran dalam emosi tinggi harga dan makna dengan juang.

Tidak ada komentar: