Hawa nafsu kita yang dibagi dalam nilai makluk Tuhan, kecuali malaikat. Disini jelas kita diberikan hawa nafsu karena jadi hal penentu jalan menuju nilai diri. Inilah nilai paling besar dan paling berat dalam kehidupan. Karena melawan hawa nafsu tidaklah mudah.
Seperti inilah kita paling lemah dengan hal ini. Oleh karena itu adalah nikmat tetapi juga kerugian, kenapa? Karena kadang hal inilah yang membutakan keberadaan manusia. Hawa nafsu adalah goda syetan paling beracun yang bisa terjunkan kita dalam keburukan. Mari kita tengok Al Qur'an dalam surat Al Insan dimana syetan telah menjadi musuh kita dan musuh yang selalu berusaha butakan kepadaNya.
Adapun juga dalam surat Al-'Ashr diman kita diberikan masa atau kehidupan yang didapat. Maka didapatkan daripada nikmat yang kadang kita terlupa pada tujuan daripada kita dibumi. Seperti nilai yang kadang mengumbar nikmat dunia dengan menggagungkan adanya kepuasan.
Seperti yang diriwayatkan Iman Al Baqir bahwa Rassullah Saw bersabda:
"Allah Swt berfirman; Demi kemulian-Ku, kebesaran-Ku, keperkasaan-Ku, dan ketinggian tempat-Ku , tak seorang hampapun yang mengutamakan keinginan(nafsunya) diatas keinginan-Ku melainkan Aku kacaukan urusannya, Aku ka burkan dunianya dan Aku sibukkan hatinya dengan dunia serta Aku berikan dunia kecuali yang telah katakan untuknya."
Dari pengakuan ini jelas bukan bahwa sanya Allah Swt akan jadikan nafsu lebih liar dari binatang. Disinipun harganya adalah seperti tidak ada hati ataupun dosa. Karena telah ditutupkannya jalan kebaikan dan kebenarannya. Seperti ketika ada lupa pada kita dilingkungan dan menjadikan segala cara untuk kepuasan.
"Demi kemulian-Ku, kebesaran-Ku, keagungan-Ku, nur-Ku, ketinggian-Ku dan ketinggian tempat-Ku, tak seorang hambapun menyelamatkan keinginan (nafsu) dirinya melainkan Aku suruh malaikat menjaganya, langit dan bumi menjamin rejekinya dan menguntungkan setiap perdagangan yang dilakukannya serta dunia akan selalu berpihak padanya."
Kita ketahui sebagai muslimin bahwa dzikir adalah pengisian daripada kosongnya pikiran. Kitapun akan tertuju pada kefokusan adanya ketakutan pada-Nya. Maka kitapun akan lupa dengan ketamakan dunia. Kitapun akan mulai mengerti bahwa kegiatan seperti ibadah yang khusuk dengan niatan pasti akan melajur pada kekuatan membawa hawa nafsu.
Seperti dalam Al Qur'an surat Al Furqon ayat 43:
"Terangkan kepadaKu tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, maka apakah kamu dapat menjadi pelihara atasnya".
Disini dijelaskan bernafsulah atas Tuhan untuk beribadah padanya jangan utamakan hawa nafsu dunia menjadi lupa padaNya. Karena kadang kita lupa sebagai mana kepentingan dunia yang menjadikan kegelisahan yang berujung pada tidak kepuasan.
Dijelaskan juga dalam Al Qur'an surat An-Nazia'at ayat 40 dan 41:
"Dan adapun orang-orang takut kepada kebesaran Tuhannya dan melawan diri keinginan hawa nafsunya ,maka sesunguhnya surgalah tempat tinggalnya".
Jelas bukan membawa hawa nafsu pada penempatan yang benar akan menjadikan kita makluk yang dimuliakanNya. Maka dari itu kita harus mengerti cara menempatkan adanya. Kapan nafsu itu perlu dan kapan nafsu itu ditahan.
Amirul Mukminm Ali as dalam Nahjul Balaghahag berkata:
"Sesungguhnya yang paling aku kuatirkan pada kalian adalah dua hal yaitu hawa nafsu dan angan-angan panjang", dan diriwayatkan Iman Shadiq bahwa:
"Waspadalah terhadap hawa nafsu kalian sebagaimana kamu sekalian waspada terhadap musuh. Tiada yang lebih pantang bagi manusia daripada mengikuti hama nafsu dan ketergelincirnya lidah yang tidak bertulang".
Dari dua penjabaran diatas hawa nafsu jadi hal nomor satu yang menjadikan buruknya manusia. Dimana inilah pemacu dari banyak perang ataupun keributan didunia ini. Hanya karena kata ingin puas pada kekuasan kita seakan mau jadi Fir'aun yang lupa pada Tuhannya. Seakan menjadikan harta dunia dan suatu hiburan sebagai adanya ladang pemacu untuk perang. Dimana terkadang juga terjadi layaknya perselingkuhan yang menjadikan zinah, dimana lupa adanya malu dan keberadaan keluarga. Disini kita lihat tidak akan ada hasil yang baik. Nilainya pasti jadi buruk dimata orang dan selalu hanya berakhir dengan kebosanan.
Maka dari itu sebenarnya dengan sederhanalah semua bisa ditekan. Yaitu mensyukuri adanya nikmat daripadaNya. Disamping itu juga akan menjadikan suatu ketenangan dalam titian berlaku. Dimana ini juga diajarkan dalam puasa. Yang mencoba menahan adanya nafsu perut dan nafsu kemaluan. Kitapun akan terasa nikmat saat berbuka dari hari hari biasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar