Kita sebagai seorang manusia
tentunya tidak lepas dari salah
ataupun masalah. Kitapun upaya
untuk memperbaiki , dengan cara
maaf kadang semua dicoba
diperbaiki. Namun bagaimana membentuk maaf itu yang
sebenar-benarnya. Karena
kadang maaf hanya upaya
melarikan diri dari masalah
bukan menyelesaikan suatu
masalah. Kita pikirkan dan renungkan
kadang kita mudah membuat
masalah namun kita juga
mudahnya meminta maaf. Dari
hal seperti ini kita harus belajar
bukan melupakan dan menganggap lalu tidak penting.
Kita hidup seharusnya makin
kedepan menyadari hakikat kita,
bukan menjadi syariat atau hal
yang sudah dibiasakan. Mewujudkan pada diri inilah
langkah kita berani berdiam atau
individu yang menata. Dikaji
bagaimana kita harus dan wajib
atas membaca dari diri kita.
Entah dari segi tindaakan, perilaku, ataupun sikap yang
tepat untuk membangun diri. Ego , empati, ataupun simpati
memang sudah jadi bagian kita
dalam bermasyarakat ataupun
bersosialisasi. Mengambil
tindakan atas ego adalah
memberi empati dan menghadirkan simpati terhadap
kesalahan diri ataupun orang lain.
Kita harus bisa banyak bertanya
atas diri kita yang membangun
bukan meraih simpati. Maaf pada diri kenapa ini sangat
penting, karena mewujudkan
tindakan yang membangun, lebih
baik dan meningkatkan tatanan
kita. Karena disisi inilah
sesungguhnya nilai maaf atas apa yang kita lakukan salah terhadap
orang lain akan tersadarkan atas
niatan kita memperbaiki. Seperti
memaafkan salah diri untuk
berani memperbaiki dan makin
menyadari kekurangan diri. Agar hal yang pernah menjadi buruk
kita tidaklah terulang. Seperti
menyayangi diri untuk
membangun maka kita pelan
belajar norma.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar